Artikel,
Mengapa Orang Berpolitik?
Posted by Pasha Karya Mandiri
Published on Kamis, 21 Februari 2013
POLITIK sudah ada sejak Tuhan menciptakan Nabi Adam dan Siti Hawa.
Saat itu pengertian politik adalah suatu cara untuk mencapai tujuan.
Bahkan saat itupun setan berpolitik, yaitu bagaimana caranya supaya Nabi
Adam dan Siti Hawa memakan buah-buahan terlarang.
Di jaman modern, politik adalah sebuah ilmu atau cara untuk menduduki
kekuasaan untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara tertentu pula.
Tanpa politik, dunia tidak akan memiliki pemimpin ataupun wakil rakyat.
Sejak Nusantara berdiri, bermunculan institusi politik berbentuk
kerajaan atau kesultanan. Pemegang tampuk kekuasaan berlaku turun
temurun. Namun di era demokrasi di Indonesia, maka berpolitik harus
melalui kegiatan politik, baik berupa pilkada, pileg ataupun pilpres.
Para politisi bersaingan dengan berbagai cara untuk memenangkan
pemilihan. Jika perlu dengan cara-cara yang curang. Artinya, tujuan
menghalalkan cara. Di sinilah mulainya politik dikotori oleh
politisi-politisi hitam.
Untuk itu para politisi berjualan visi,misi atau rencana kerja yang
asal bunyi saja. Yang penting para pemilih tertarik dan memilih dia.
Soal dia bisa menepati janji atau tidak, itu urusan nanti. Ini adalah
merupakan efek demokrasi yang bernuansa persaingan. Semakin ketat
persaingan, maka kemungkinan berbuat curang semakin besar.
Untuk menang memang butuh biaya sangat besar. Oleh karena itu, ketika
mereka menang, maka yang dipikirkannya adalah kembali modal dengan
segala cara. Tahap berikutnya yaitu memperkaya diri sendiri, kelompoknya
atau partai politiknya.
Segala tender proyek diusahakan sedemikian rupa supaya dimenangkan
oleh perusahaan miliknya, familinya, temannya,kroninya atau milik orang
lain asal mau memberikan komisi yang besarnya cukup lumayan.
Memperjuangkan aspirasi rakyat? Iya, itu akan diperjuangkan tapi
merupakan prioritas ke-999. Itupun harus ada biayanya yang harus disetor
ke para politisi. Oleh karena itu golput merupakan virus yang
membahayakan para calon politisi. Oleh karena itu dihembuskan isu bahwa
golput bukan warganegara yang baik, haram hukumnya dan isu negatif
lainnya.
Soalnya, kalau banyak yang golput, mereka tidak dapat kursi yang
berarti tidak dapat uang. Itulah sebabnya banyak politisi yang
membohongi para pemilihnya dengan janji-janji indah bagaikan angin
sorga. Ironisnya, 60 persen pemilih tergolong pemilih yang tidak
rasional dan gampang dikibulin.
Mereka berubah menjadi kaya raya. Sedangkan para pemilihnya tetap
melarat sepanjang masa. Apalagi, para caleg sekarang berasal dari siapa
saja: preman pasar, tukang parkir, artis, satpam, ibu rumah tangga,
pengangguran, dll. Mereka bukan orang-orang yang memahami hukum.
Padahal, di DPR mereka harus membuat undang-undang.
Lantas, apa untungnya Anda memilih caleg? ya tentunya ingin mempunyai wakil-wakil yang kompeten.








0 komentar
Tulis Komentar Anda